Kamis, 23 Januari 2014

26th Birth Day

 Wednesday, October 16, 2013

Empat hari yang lalu genap sudah umurku 26 tahun, seperempat abad lebih satu tahun. Bagiku hari ulang tahun sama saja dengan hari-hari biasa, karena setiap detik jatah hidup manusia di dunia ini semakin berkurang. Aku hanya berharap semakin hari semakin lebih baik, tak lebih. Akhir2 ini aku merasa dikejar2 rasa bersalah, menyedihkan. Ya..setiap hari, dihitung dari hari turunnya hasil ujianku aku selalu berusaha mengumpulkan keberanian untuk berterus terang kepada keluargaku bahwa tahun ini aku gagal lagi. Tidak lulus alias belum bisa WISUDA.  Aku tahu, kali ini aku benar2 memang seorang pengecut, bukan seperti aku yang dulu. Tuhanku, Allah..beri aku keberanian. Setiap hari aku mengumpulkan kekuatan untuk bisa menerima kenyataan ini. Bahkan tak jarang aku berharap ada keajaiban kalo sebenarnya hasil ujian yang tertulis adalah kesalahan dosenku, dan aku berharap ketika aku melihat nilaiku nanti, aku lulus. Sangat konyol memang. Tapi aku sangat berharap ini terjadi. Sungguh tak apa bagiku tidak mengikuti prosesi wisuda seperti teman2 yang lain, asalkan aku lulus. Totally crazy, hihi.    
Kata kakak kelasku yang sekelas denganku dan kebetulan sama2 belum lulus, belum lulus tahun ini berarti kita masih dikasih waktu untuk belajar lebih baik lagi. This is not fair. Tapi aku berusaha untuk menerima kata2nya itu. Aku hanya yakin bahwa dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Allah memang selalu ngasih surprise buat kita, kata Zaini, temen satu angkatanku. Aku pernah denger juga katanya kita harus memperbaiki niat kita belajar di Azhar ini. Mungkin saja kita salah niat, maknya belum lulus juga. kalo diinget lagi seingetku niatku gak aneh2 deh. Aku cuma niat belajar agar jadi orang berguna dan bisa membahagiakan orang sekelilingku, terutama keluargaku. Tentulah juga nianya Lillahi Ta'ala. Aku rasa gak ada yang salah dengan niatku. Bahkan setiap selepasa sholat 5 waktu aku selalu berdo'a untuk kelancaran studiku, bukan hanya saat2 ujian saja. Hanya saja belajarku yang kurang maksimal, tapi aku tetep belajar kok . Usaha udah, berarti tinggal do'a dan tawakkal untuk menghadapi hasil ujian. Tawakkal berarti menyerahkan semua keputusan kepada YAng Maha Kuasa dan Berkehendak, aku hanya meminta kelulusan. Ya, hanya do'a itu yang selalu aku panjatkan ketika tengah menunggu hasil ujian. Semoga diberikan yang terbaik menurut-Nya. Bahkan menurut temanku itu do'a orang yang PESIMIS. Ketika berdo'a mintalah yang banyak, jangan hanya minta yang terbaik. Ya Salaam..ini kurang sopan menurutku. Pernah suatu saat temanku mendo'akanku semoga diberi nilai Mumtaz. Dan aku hanya bisa mengamini do'anya sambil berfikir apakah aku pantas untuk dapat predikat MUMTAZ????. Aku hanya merasa kurang pantas jika mendapat predikat itu karena aku tahu seberapa kemampuanku dan bagaimana cara belajarku. Rasanya belum pantas bagiku untuk mendapat predikat itu. Dan aku tahu itu karena setiap tahun hasil ujianku tidak terlalu memuaskan. Tapi aku sadar kalau ini semua adalah hasil yang sesuai dengan usahaku. Aku selalu bersyukur.

Kadang aku nggak ngerti dengan rencana Allah untukku. Setiap kali aku yakin kalau hasil ujianku nanti bagus, setiap itu juga hasil ujianku menyedihkan. Bukankah setiap perkara akan berbuah baik jika diyakini akan baik hasilnya?. Dan begitu juga sebaliknya. I'm confused. Akhirnya aku putuskan untuk selalu berserah diri kepada-Mu untuk semua yang akan terjadi padaku, seperti do'aku biasanya. Aku hanya berharap semoga yang Engkau putuskan adalah yang terbaik untukku. Karena aku yakin itu selalu yang terbaik.

Rindu Ayah

Sakitku memang belum sembuh hingga saat ini, semenjak kepergianmu 50 hari yang lalu, Ayah.
Aku tak tahu, obat apa yang harus aku minum untuk sakitku kali ini. Semakin hari semakin sesak saja dadaku ini, sakit. Sejak hari itu aku hanya bisa menyebut namamu lirih dalam lantunan do’aku, berharap engkau bahagia di sisi-Nya. Pasti, aku yakin engkau bahagia di Jannah-Nya.
Sungguh banyak yang aku sesalkan hingga saat ini. Seharusnya tahun 2013 lalu aku pulang dengan membawa ijazah S1-ku dari Al-Azhar, tapi sampai sekarang aku masih di Kairo, blm menyelesaikan kuliahku. Sedih. Sedih belum bisa membuatmu bahagia hingga ajalmu tiba. Yang lebih menyesakkan lagi, beberapa rencanaku setelah pulang ke Tanah Air nanti harus aku lupakan. Rencanaku untuk memeluk erat dan mencium pipi ayahku tercinta saat menjemputku di bandara nanti. Aku akui diriku sangat kaku untuk mengungkapkan rasa sayang terhadapmu, dan aku yakin ini sifat turunan darimu, Ayah. Kini, pelan-pelan aku sudah banyak berubah, Ayah. Sekarang aku cerewet alias banyak omong dan mau menyapa orang lain walaupun nggak saling kenal, nggak kaya dulu aku yang pendiam. Bahkan tak jarang aku dibilang “sombong”, sungguh menyebalkan. Andai saja aku  membuang sifat kaku-ku dari dulu mungkin aku gak akan menyesal seperti sekarang ini. Ayahku yang kaku tapi sesungguhnya sangat penyayang dan bertanggung jawab terhadap kami, keluarganya. Dibalik sikapnya yang kaku, aku sering terharu betapa sesungguhnya beliau mencintai kami. Dengan segala usahanya yang tiada henti, aku bisa merasakan belajar di bangku kuliah Universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Baginya pendidikan adalah segala-galanya. Meskipun hanya dengan modal ‘yakin’ dan ‘usaha maksimal’ beliau bisa melakukan apa yang diinginkan.  Aku tahu kami bukanlah keluarga yang kaya, tapi karena ayahku yang ‘besar hati’ kami merasa mampu untuk mencapai apa yang kami inginkan. ‘Meskipun sekolahku nggak tinggi tapi aku ingin kalian semua anak-anakku sekolah setinggi mungkin, sekuat tenagaku’, itu yang selalu beliau ucapkan ketika kami patah semangat. Sungguh aku bahagia dilahirkan sebagai darah dagingmu, Ayah. Nasehat beliau yang tak akan pernah aku lupakan sampai akhir hidupku ‘sekali melangkah jangan pernah mundur ataupun menoleh ke belakang’ . Kata-kata indah seorang ayah yang tak sempat mengenyam  bangku kuliah , sungguh mengagumkan. Semua nasehatmu akan kuingat selalu, Ayah. Allah..sayangi selalu ayahku di sisi-Mu.
background:#ded8co