Sakitku memang belum sembuh hingga saat ini, semenjak
kepergianmu 50 hari yang lalu, Ayah.
Aku tak tahu, obat apa yang harus aku minum untuk sakitku kali ini. Semakin hari semakin sesak saja dadaku ini, sakit. Sejak hari itu aku hanya bisa menyebut namamu lirih dalam lantunan do’aku, berharap engkau bahagia di sisi-Nya. Pasti, aku yakin engkau bahagia di Jannah-Nya.
Sungguh banyak yang aku sesalkan hingga saat ini. Seharusnya tahun 2013 lalu aku pulang dengan membawa ijazah S1-ku dari Al-Azhar, tapi sampai sekarang aku masih di Kairo, blm menyelesaikan kuliahku. Sedih. Sedih belum bisa membuatmu bahagia hingga ajalmu tiba. Yang lebih menyesakkan lagi, beberapa rencanaku setelah pulang ke Tanah Air nanti harus aku lupakan. Rencanaku untuk memeluk erat dan mencium pipi ayahku tercinta saat menjemputku di bandara nanti. Aku akui diriku sangat kaku untuk mengungkapkan rasa sayang terhadapmu, dan aku yakin ini sifat turunan darimu, Ayah. Kini, pelan-pelan aku sudah banyak berubah, Ayah. Sekarang aku cerewet alias banyak omong dan mau menyapa orang lain walaupun nggak saling kenal, nggak kaya dulu aku yang pendiam. Bahkan tak jarang aku dibilang “sombong”, sungguh menyebalkan. Andai saja aku membuang sifat kaku-ku dari dulu mungkin aku gak akan menyesal seperti sekarang ini. Ayahku yang kaku tapi sesungguhnya sangat penyayang dan bertanggung jawab terhadap kami, keluarganya. Dibalik sikapnya yang kaku, aku sering terharu betapa sesungguhnya beliau mencintai kami. Dengan segala usahanya yang tiada henti, aku bisa merasakan belajar di bangku kuliah Universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Baginya pendidikan adalah segala-galanya. Meskipun hanya dengan modal ‘yakin’ dan ‘usaha maksimal’ beliau bisa melakukan apa yang diinginkan. Aku tahu kami bukanlah keluarga yang kaya, tapi karena ayahku yang ‘besar hati’ kami merasa mampu untuk mencapai apa yang kami inginkan. ‘Meskipun sekolahku nggak tinggi tapi aku ingin kalian semua anak-anakku sekolah setinggi mungkin, sekuat tenagaku’, itu yang selalu beliau ucapkan ketika kami patah semangat. Sungguh aku bahagia dilahirkan sebagai darah dagingmu, Ayah. Nasehat beliau yang tak akan pernah aku lupakan sampai akhir hidupku ‘sekali melangkah jangan pernah mundur ataupun menoleh ke belakang’ . Kata-kata indah seorang ayah yang tak sempat mengenyam bangku kuliah , sungguh mengagumkan. Semua nasehatmu akan kuingat selalu, Ayah. Allah..sayangi selalu ayahku di sisi-Mu.
Aku tak tahu, obat apa yang harus aku minum untuk sakitku kali ini. Semakin hari semakin sesak saja dadaku ini, sakit. Sejak hari itu aku hanya bisa menyebut namamu lirih dalam lantunan do’aku, berharap engkau bahagia di sisi-Nya. Pasti, aku yakin engkau bahagia di Jannah-Nya.
Sungguh banyak yang aku sesalkan hingga saat ini. Seharusnya tahun 2013 lalu aku pulang dengan membawa ijazah S1-ku dari Al-Azhar, tapi sampai sekarang aku masih di Kairo, blm menyelesaikan kuliahku. Sedih. Sedih belum bisa membuatmu bahagia hingga ajalmu tiba. Yang lebih menyesakkan lagi, beberapa rencanaku setelah pulang ke Tanah Air nanti harus aku lupakan. Rencanaku untuk memeluk erat dan mencium pipi ayahku tercinta saat menjemputku di bandara nanti. Aku akui diriku sangat kaku untuk mengungkapkan rasa sayang terhadapmu, dan aku yakin ini sifat turunan darimu, Ayah. Kini, pelan-pelan aku sudah banyak berubah, Ayah. Sekarang aku cerewet alias banyak omong dan mau menyapa orang lain walaupun nggak saling kenal, nggak kaya dulu aku yang pendiam. Bahkan tak jarang aku dibilang “sombong”, sungguh menyebalkan. Andai saja aku membuang sifat kaku-ku dari dulu mungkin aku gak akan menyesal seperti sekarang ini. Ayahku yang kaku tapi sesungguhnya sangat penyayang dan bertanggung jawab terhadap kami, keluarganya. Dibalik sikapnya yang kaku, aku sering terharu betapa sesungguhnya beliau mencintai kami. Dengan segala usahanya yang tiada henti, aku bisa merasakan belajar di bangku kuliah Universitas tertua di dunia, Al-Azhar. Baginya pendidikan adalah segala-galanya. Meskipun hanya dengan modal ‘yakin’ dan ‘usaha maksimal’ beliau bisa melakukan apa yang diinginkan. Aku tahu kami bukanlah keluarga yang kaya, tapi karena ayahku yang ‘besar hati’ kami merasa mampu untuk mencapai apa yang kami inginkan. ‘Meskipun sekolahku nggak tinggi tapi aku ingin kalian semua anak-anakku sekolah setinggi mungkin, sekuat tenagaku’, itu yang selalu beliau ucapkan ketika kami patah semangat. Sungguh aku bahagia dilahirkan sebagai darah dagingmu, Ayah. Nasehat beliau yang tak akan pernah aku lupakan sampai akhir hidupku ‘sekali melangkah jangan pernah mundur ataupun menoleh ke belakang’ . Kata-kata indah seorang ayah yang tak sempat mengenyam bangku kuliah , sungguh mengagumkan. Semua nasehatmu akan kuingat selalu, Ayah. Allah..sayangi selalu ayahku di sisi-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar